Monday, November 28, 2016

KISAH UTSMAN BIN AFFAN

                                       KISAH UTSMAN BIN AFFAN


Menjelang wafat, Umar bin Khattab berpesan. Selama tiga hari, imam masjid hendaknya
diserahkan pada Suhaib Al-Rumi. Namun pada hari keempat hendaknya telah dipilih seorang
pemimpin penggantinya. Umar memberikan enam nama. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib,
Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auff dan Thalhah
anak Ubaidillah.


Keenam orang itu berkumpul. Abdurrahman bin Auff memulai pembicaraan dengan mengatakan
siapa dia antara mereka yang bersedia mengundurkan diri. Ia lalu menyatakan dirinya mundur
dari pencalonan. Tiga orang lainnya menyusul. Tinggallah Utsman dan Ali. Abdurrahman
ditunjuk menjadi penentu. Ia lalu menemui banyak orang meminta pendapat mereka. Namun
pendapat masyarakat pun terbelah.


Imar anak Yasir mengusulkan Ali. Begitu pula Mikdad. Sedangkan Abdullah anak Abu Sarah
berkampanye keras buat Utsman. Abdullah dulu masuk Islam, lalu balik menjadi kafir kembali
sehingga dijatuhi hukuman mati oleh Rasul. Atas jaminan Utsman hukuman tersebut tidak
dilaksanakan. Abdullah dan Utsman adalah "saudara susu".


Konon, sebagian besar warga memang cenderung memilih Utsman. Saat itu, kehidupan ekonomi
Madinah sangat baik. Perilaku masyarakat pun bergeser. Mereka mulai enggan pada tokoh yang
Abdurrahman -yang juga sangat kaya-- pun memutuskan Ustman sebagai khalifah. Ali sempat
protes. Abdurrahman adalah ipar Ustman. Mereka sama-sama keluarga Umayah. Sedangkan Ali,
sebagaimana Muhammad, adalah keluarga Hasyim. Sejak lama kedua keluarga itu bersaing.
Namun Abdurrahman meyakinkan Ali bahwa keputusannya adalah murni dari nurani. Ali kemudian
menerima keputusan itu.


Maka jadilah Ustman khalifah tertua. Pada saat diangkat, ia telah berusia 70 tahun. Ia
lahir di Thalif pada 576 Masehi atau enam tahun lebih muda ketimbang Muhammad. Atas ajakan
Abu Bakar, Ustman masuk Islam. Rasulullah sangat menyayangi Ustman sehingga ia dinikahkan
dengan Ruqaya, putri Muhammad. Setelah Ruqayah meninggal, Muhammad menikahkan kembali Ustman
dengan putri lainnya, Ummu Khulthum.


Masyarakat mengenal Ustman sebagai dermawan. Dalam ekspedisi Tabuk yang dipimpin oleh Rasul,
Ustman menyerahkan 950 ekor unta, 50 kuda dan uang tunai 1000 dinar. Artinya, sepertiga dari
biaya ekspedisi itu ia tanggung seorang diri. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Ustman juga
pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang
menderita di musim kering itu.


Di masanya, kekuatan Islam melebarkan ekspansi. Untuk pertama kalinya, Islam mempunyai armada
laut yang tangguh. Muawiyah bin Abu Sofyan yang menguasai wilayah Syria, Palestina dan
ibanon membangun armada itu. Sekitar 1.700 kapal dipakainya untuk mengembangkan wilayah
ke pulau-pulau di Laut Tengah. Siprus, Pulau Rodhes digempur. Konstantinopel pun sempat
dikepung.


Namun, Ustman mempunyai kekurangan yang serius. Ia terlalu banyak mengangkat keluarganya
menjadi pejabat pemerintah. Posisi-posisi penting diserahkannya pada keluarga Umayah. Yang
paling kontroversial adalah pengangkatan Marwan bin Hakam sebagai sekretaris negara.
Banyak yang curiga, Marwan-lah yang sebenarnya memegang kendali kekuasaan di masa Ustman.


Di masa itu, posisi Muawiyah anak Abu Sofyan mulai menjulang menyingkirkan nama besar
seperti Khalid bin Walid. Amr bin Ash yang sukses menjadi Gubernur Mesir, diberhentikan
diganti dengan Abdullah bin Abu Sarah -keluarga yang paling aktif berkampanye untuk Ustman
dulu. Usman minta bantuan Amr kembali begitu Abdullah menghadapi kesulitan. Setelah itu,
ia mencopot lagi Amr dan memberikan kembali kursi pada Abdullah.


Sebagai Gubernur Irak, Azerbaijan dan Armenia, Ustman mengangkat saudaranya seibu, Walid
bin Ukbah menggantikan tokoh besar Saad bin Abi Waqas. Namun Walid tak mampu menjalankan
pemerintahan secara baik. Ketidakpuasan menjalar ke seluruh masyarakat. Bersamaan dengan
itu, muncul pula tokoh Abdullah bin Sabak. Dulu ia seorang Yahudi, dan kini menjadi seorang
muslim yang santun dan saleh. Ia memperoleh simpati dari banyak orang.


Abdullah berpendapat bahwa yang paling berhak menjadi pengganti Muhammd adalah Ali.
Ia juga menyebut bakal adanya Imam Mahdi yang akan muncul menyelamatkan umat di masa
mendatang -sebuah konsep mirip kebangkitan Nabi Isa yang dianut orang-orang Nasrani.
Segera konsep itu diterima masyarakat di wilayah bekas kekuasaan Persia, di Iran dan
Irak. Pengaruh Abdullah bin Sabak meluas. Ustman gagal mengatasi masalah ini secara
bijak. Abdullah bin Sabak diusir ke Mesir. Abu Dzar Al-Ghiffari, tokoh yang sangat
saleh dan dekat dengan Abdullah, diasingkan di luar kota Madinah sampai meninggal.


Beberapa tokoh mendesak Ustman untuk mundur. Namun Ustman menolak. Ali mengingatkan
Ustman untuk kembali ke garis Abu Bakar dan Umar. Ustman merasa tidak ada yang keliru
dalam langkahnya. Malah Marwan berdiri dan berseru siap mempertahankan kekhalifahan
itu dengan pedang. Situasai tambah panas. Pada bulan Zulkaedah 35 Hijriah atau 656 Masehi,
500 pasukan dari Mesir, 500 pasukan dari Basrah dan 500 pasukan dari Kufah bergerak.
Mereka berdalih hendak menunaikan ibadah haji, namun ternyata mengepung Madinah.


Ketiganya bersatu mendesak Ustman yang ketika itu telah berusia 82 tahun untuk mundur.
Dari Mesir mencalonkan Ali, dari Basrah mendukung Thalhah dan dari Kufah memilih Zubair
untuk menjadi khalifah pengganti. Ketiganya menolak, dan malah melindungi Ustman dan
membujuk para prajurit tersebut untuk pulang. Namun mereka menolak dan malah mengepung
Madinah selama 40 hari. Suatu malam mereka malah masuk untuk menguasai Madinah. Ustman
yang berkhutbah mengecam tindakan mereka, dilempari hingga pingsan.


Ustman membujuk Ali agar meyakinkan para pemberontak. Ali melakukannya asal Ustman tak
lagi menuruti kata-kata Marwan. Ustman bersedia. Atas saran Ali, para pemberontak itu pulang.
Namun tiba-tiba Ustman, atas saran Marwan, menjabut janjinya itu. Massa marah.Pemberontak
balik ke Madinah. M
Muhammad anak Abu Bakar siap mengayunkan pedang. Namun tak jadi melakukannya setelah ditegur
Ustman. Al Ghafiki menghantamkan besi ke kepala Ustman, sebelum Sudan anak Hamran menusukkan
pedang. Pada tanggal 8 Zulhijah 35 Hijriah, Ustman menghembuskan nafas terakhirnya sambil
memeluk Quran yang dibacanya. Sejak itu, kekuasaan Islam semakin sering diwarnai oleh tetesan darah.

Ustman juga membuat langkah penting bagi umat. Ia memperlebar bangunan Masjid Nabawi di
Madinah dan Masjid Al-Haram di Mekah. Ia juga menyelesaikan pengumpulan naskah Quran yang
telah dirintis oleh kedua pendahulunya. Ia menunjuk empat pencatat Quran, Zaid bin Tsabit,
Abdullah bin Zubair, Said bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits, untuk memimpin sekelompok
juru tulis. Kertas didatangkan dari Mesir dan Syria. Tujuh Quran ditulisnya, Masing-masing
dikirim ke Mekah, Damaskus, San'a, Bahrain, Basrah, Kufah dan Madinah.


Di masa Ustman, ekspedisi damai ke Tiongkok dilakukan. Saad bin Abi Waqqas bertemu dengan
Kaisar Chiu Tang Su dan sempat bermukim di Kanton. 



Di Poskan Oleh :  artikelkisah-kisah.blogspot.co.id

artikelkisah-kisah.blogspot.co.id
 




0 comments:

Post a Comment

Yahoo News: Top Stories

Media Sosial

CB Blogger

Translate

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes